Asal Muasal Sebutan Aceh Pungoe dari Belanda Kepada Orang Aceh

 Sejarah
banner 468x60

Orang aceh,pada masa Perang Aceh

 

Detektifaceh.com – Aceh Pungo atau dalam Bahasa Indonesia adalah Aceh Gila dan dikenal dalam bahasa Belanda dengan nama Aceh Moorden. Kata “Pungo” adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Aceh yang berarti “gila” merupakan istilah yang digunakan ketika seseorang melakukan hal-hal di luar batas kewajaran dan diluar akal sehat.

Secara morfologi arti dari Aceh Pungo adalah suatu pembunuhan khas Aceh yang orang Aceh sendiri menyebutnya poh kaphe (bunuh kafir). Di sini para pejuang Aceh tidak lagi melakukan peperangan secara bersama-sama atau berkelompok, tetapi secara perseorangan. Dengan nekad seseorang melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda Sebutan ini dipopulerkan oleh seorang peneliti Belanda yang bernama R.A Kern, adapun asal muasal kata ini dapat kita telusuri dari sejarah yang akan kita bahas sekarang.

Melansir dari Geunta.com salah satu cerita tentang Komandan Divisi 5 Marsose Lhoksukon, Pagi tampak cerah. Kapten Charles Emile Schmid berdiri tegap di salah satu sudut lapangan. Dadanya agak ia busungkan. Matanya menatap awas ke arah kumpulan serdadu yang sedang berbaris. Sesekali terdengar Komandan itu menghardik. Ia tidak suka jika di antara prajuritnya itu ada yang tak disiplin.

Puas memantau anak buahnya, Schmid beranjak pulang. Baru beberapa langkah ia meninggalkan lapangan, tiba-tiba ada satu orang Aceh lewat di hadapannya. Orang itu berhenti lalu memberi ‘tabik’ atau salam penghormatan.Schmid mengangkat tangannya untuk membalas salam penghormatan orang itu sembari tersenyum. Baru saja ia melihat sang pemberi tabik menurunkan tangannya, ketika ia sadar, ujung rencong orang itu sudah menembus perutnya.

Shcmid lengah,Ia tak melihat orang tadi menarik rencong yang diselipkan di pinggangnya. Schmid terhuyung dan sekarat. Seragamnya basah oleh darah. Kendati diboyong ke rumah sakit, tetapi nyawanya tak tertolong. Schmid pun tewas.Perlu dicatat kejadian yang menimpa Kapten Schmid tersebut hanyalah salah satu dari banyak kisah serupa yang terjadi di Aceh pada masa kolonial.Saat itu, upaya pembunuhan terhadap opsir dan perwira Belanda sering terjadi. Aksi itu dilakukan secara sporadis, perseorangan, dan tanpa disangka-sangka.

Kejadiannya bisa terjadi di mana saja. Di jalan, di pasar, di keramaian, bahkan di tangsi-tangsi militer milik Belanda. Para pelakunya adalah orang Aceh.Bagi pihak Belanda, fenomena ini menjadi suatu hal yang tidak biasa. Mereka menyebutnya Atjeh Moorden. Selanjutnya lebih dikenal sebagai Aceh Pungo atau dalam Bahasa Indonesia adalah Aceh Gila.Penyematan kata ‘gila’ merujuk pada anggapan awal pihak Belanda mengenai sikap orang Aceh yang bisa tiba-tiba menghunus rencongnya dan menyasar orang Belanda. Hal ini dianggap sebagai gejala psikologis oleh orang Belanda.

Perbuatan nekat itu dianggap tidak mungkin dilakukan oleh orang waras. Maka timbullah istilah di kalangan orang Belanda Gekke Atjehsche yang berarti orang Aceh gila, yang kemudian populer dengan sebutan Aceh Pungo.Bangsa Aceh pada dasarnya adalah bangsa yang ditakuti oleh Belanda,bangsa Aceh adalah bangsa yang tidak pernah terima dengan penjajahan.

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply