Tengku Chiek Awe Geutah Ulama Aceh Yang Berasal Dari Mekkah

 Sejarah
banner 468x60

Komplek makam Tengku Chiek Awe Geutah

Detektifaceh.com – Seperti mengutip dari website pemerintah Aceh, Tgk Chik Awe Geutah nama aslinya adalah Syaikh ëAbdurrahim Bawarith al-Asyi adalah anak Syaikh Jamaluddin al-Bawaris dari Zabid Yaman. Sampai sekarang, keturunan Chik Awe Geutah bermukim di sekitar kuburannya di Awe Geutah, Peusangan. Dari wilayah itulah dulu beliau menyiarkan Islam  ke seluruh pelosok Serambi Mekkah dengan berkonsentrasi pada ilmu tafsir, hadits, fiqih dan tassauf.

Dilansir dari salah satu sumber, Teungku Chiek Awe Geutah datang ke Aceh pada masa Sultan Ali Mughayat Syah. Oleh Sultan Ali Mughayat Syah, Teungku Chiek Awe Geutah diutus ke Peusangan. Setelah bermukim di beberapa tempat, beliau akhirnya menetap di Desa Awe Geutah. Kononnya, beliau memilih Desa Awe Geutah setelah mendapat isyarat berupa cahaya putih yang diyakini berasal dari desa tersebut.

Sesampainya di Desa Awe Geutah, Beliau mendirikan gubuk (rumah) di tempat keluarnya cahaya putih tersebut.Beberapa lama kemudian beliau mendirikan dayah di daerah tersebut. Sejak saat itu mulailah beliau mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat setempat.

Dikisahkan juga bahwa Teungku Chiek Awe Geutah memiliki seorang anak yang tinggal di Mekkah. Kabarnya anak Teungku Chiek Awe Geutah tersebut adalah seorang Syaikh yang mengajar di Masjidil Haram. Setelah Teungku Chiek wafat, anaknya yang berada di Mekkah tersebut pulang dan menetap di Awe Geutah.

Sebagai Ulama yang dianggap keramat, Teungku Chiek Awe Geutah diyakini memiliki beberapa kelebihan. Dikisahkan bahwa Teungku Chiek Awe Geutah sering melaksanakan shalat Jumat di Mekkah, sedangkan beliau tidak berdomilisi di Mekkah. Hal ini menimbulkan keheranan di tengah masyarakat, di mana pada hari Jumat, Teungku Chiek tidak pernah shalat Jumat di Awe Geutah. Dari waktu ke waktu, masyarakat semakin heran karena mereka melihat Teungku Chiek yang notabene seorang ulama besar tidak pernah shalat Jumat.

Alkisah, ada seorang perantau asal Awe Geutah yang bermukim di Mekkah. Pada suatu ketika perantau tersebut pulang ke Awe Geutah. Tanpa sengaja, masyarakat di Awe Geutah menceritakan kepada perantau tersebut, bahwa ulama besar Teungku Chiek Awe Geutah tidak pernah shalat Jumat. Mendengar keterangan tersebut, si perantau ini terkejut dan mengatakan bahwa dia selalu berjumpa dengan Teungku Chiek di Masjidil Haram pada hari Jumat. Mendengar informasi unik dari si perantau tersebut, masyarakat kembali terkagum-kagum dengan karamah yang dimiliki oleh Teungku Chiek.Namun hal ini dalam beberapa diskusi hal ini menuai pro dan kontra,mengingat aceh memiliki waktu 4 jam lebih cepat jika dibandingkan dengan arab,maka secara logika waktu sholat jumatnya berbeda,tetapi balik lagi ini adalah alkisah yang diceritakan secara turun temurun di aceh.

Menurut sumber,Sebelum wafat, Teungku Chiek Awe Geutah berwasiat seseorang agar pada saat meninggal nantinya dia dimakamkan di bawah rumahnya. Beliau juga berpesan agar ke dalam peti jenazah dimasukkan pedang dan cincin. Namun pada saat beliau wafat, si penerima wasiat tidak menjalankan wasiat dari Teungku Chiek secara sempurna. Si penerima wasiat justru memerintahkan masyarakat untuk menggali kuburan di tanah pekuburan umum. Selain itu, si penerima wasiat hanya memasukkan cincin ke dalam peti jenazah, sedangkan pedang tidak dimasukkan dengan alasan hal tersebut tidak lazim. Setelah prosesi pengurusan jenazah selesai, terjadi keanehan pada saat masyarakat hendak membawa jenazah Teungku Chiek ke pekuburan umum, di mana jenazah Teungku Chiek menjadi berat dan tidak bisa diangkat.

Karena sulitnya mengangkat jenazah, akhirnya jenazah Teungku Chik diletakkan di bawah rumah beliau. Kemudian si penerima wasiat kembali menggali kuburan di samping peti jenazah. Setelah itu masyarakat kembali mengangkat jenazah Teungku Chiek untuk dikuburkan, tapi usaha mereka kembali gagal, jenazah tersebut tidak bisa digeser sedikit pun. Karena tidak bisa diangkat dan dipindahkan ke dalam liang kubur, akhirnya jenazah Teungku Chiek terpaksa ditimbun atasnya dengan tanah sehingga makam beliau sampai sekarang terlihat tinggi dan berbeda dengan makam lain.

Setelah beliau meninggal,dikatakan ruh beliau berjumpa dengan anaknya di Masjidil Haram. Kepada anaknya, Teungku Chiek bercerita tentang kejadian di Awe Geutah, di mana masyarakat di sana tidak menjalankan wasiat beliau.

Teungku Chiek juga menjelaskan kepada anaknya tentang hikmah di balik dua benda (pedang dan cincin) yang beliau wasiatkan agar dimasukkan ke dalam peti jenazah. Beliau mengatakan kepada anaknya bahwa, apabila pedang tersebut dikuburkan bersama jenazahnya, maka orang-orang kafir tidak akan bisa masuk ke tanah Aceh. Adapun cincin, dimaksudkan agar agama Islam di Aceh lebih kuat dibanding dengan daerah lain. Namun si penerima wasiat hanya memasukkan cincin saja, sehingga agama Islam tetap kuat di Aceh, tapi di sisi lain orang kafir bisa masuk ke Aceh.

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply