Top Daboh Atau Rapai Daboh Kesenian Unik Dari Aceh Selatan

 Sejarah
banner 468x60

Top Daboh (Foto: Aceh Indie Photo)

Detektifaceh.com – Menurut sejarah, debus sebenarnya berhubungan dengan tarekat Rifa’iyah yang dibawa Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh abad 16. Tarekat ini punya konvensi, ketika dalam kondisi epiphany, gembira karena ‘bertatap muka’ dengan Tuhan, mereka menghantamkam benda tajam ke tubuh mereka. Filosofinya, tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi kalau Allah tidak mengizinkan pisau, golok, parang atau peluru sekalipun melukai mereka, maka mereka tak akan terluka.

Konon, menurut riwayat kaum sufi (abad ke 7 H), Rapa’i Dabus ini berasal dari nyanyian-nyanyian (puisi yang berbentuk doa) yang dibacakan oleh seorang mursyid (pemimpin tarikat) dalam ajaran tasawuf-nya. Mursyid ini membacakan doa dan zikir dengan suara yang merdu dan lemah lembut dalam waktu lama, sampai dirinya dan pengikutnya tak sadarkan diri (fana billah). Fana billah inilah yang jadi tujuan untuk mencapai kepuasan batin dan  kelezatan jiwa.

Kalaupun ingin juga zikir dalam lagu  Rapa’i Dabus itu digunakan untuk pengebalan diri, biasanya para leluhur kita dahulu memanfaatkan ilmu itu saat mereka berperang dengan Belanda atau kaum kafir yang menjajah negeri mereka.

Rapa’i Dabus (bahasa Aceh – daboih), merupakan seni tari kesaktian yang digemari sebagian masyarakat Aceh Selatan sejak Belanda datang ke Aceh. Biasanya dipertunjukan pada acara keramaian, pesta perkawinan, sunat rasul dan malam resepsi kesenian rakyat pada HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dulu, di Tapaktuan pada awal abad XIX M, Kesenian Rapa’i Dabus ini mulai dipertandingkan antara daerah (Kewedanaan) oleh Pemerintah Belanda pada Hari HUT Kelahiran  Ratu Wihelmina. Padahal semasa Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636) Kesenian Rapa’i Dabus ini sangat dilarang ditampilkan. Karena waktu itu Syekh Abdurrauf (Syiah Kuala) yang menjadi penasehat Sulthan Iskandar Muda mengharamkan permainan Rapa’i Dabus ini dengan alasan, pada kesenian Rapa’i Dabus terdapat beberapa hal yang melanggar syariat Islam yang kaffah, antara lain adalah:

1. menampak-nampakkan sikap takabbur

2. mengundang sikap sombong/membanggakan diri kepada manusia (karena sengaja dipertontonkan pada khalayak).

3. mengundang sikap ingin bersaing, berlomba-lomba  mengalahkan kelebihan dan kesaktian lawan.

4. diragukan anggota (peserta) Rapa’i Dabus tidak mampu bersikap tawaduk dan wara’ (rendah hati) dalam pergaulan sehari-hari serta tidak suka menampak-         nampakkan (menonjol-nonjolkan)  kesaktiannya/kekebalan  di sembarang tempat. 

5. Rapa’i Dabus akhirnya akan mengundang sikap permusuhan, karena masing-masing pihak yang bertanding dipastikan ingin lebih dari lawannya.(*)

banner 468x60

Author: 

Related Posts

Leave a Reply